Perjalanan Menemukan “Aku”

Sebagai orang rumahan sejak kecil, aku ngga begitu suka bepergian. Emang sih, ada saat tertentu aku pengen banget travelling, tapi intensitasnya jarang banget. Sering banget aku males ke luar rumah, padahal malamnya aku antusias berencana buka laptop di kedai kopi selama berjam-jam. Jangankan ke kedai kopi yang aku rencanain buat diri sendiri, untuk main ke rumah sepupu kok rasanya mager banget, ya.

Lanjutkan membaca “Perjalanan Menemukan “Aku””

Iklan

Jangan nanya, ya!

Sejak di bangku sekolah dasar sampai kuliah, aku selalu berusaha untuk ngga nyontek saat ujian. Saat SD, aku dan yang lainnya biasa membangun ‘dinding’ di sekitar kertas ujian yang dibuat dari buku. Alasannya sih supaya temen sebangku ngga nyontek. Karena dulu jaman SD belum ada tuh yang namanya duduk terpisah saat ujian. Alasan lainnya kenapa kita segitu blak-blakan ngebangun dinding yang artinya ‘dilarang nyontek’ ngga lain karena saat itu kami masih bisa bebas berekspresi, tanpa perlu yang namanya musuhan gara-gara ngga dikasih contekan.

Lanjutkan membaca “Jangan nanya, ya!”

Suatu Pagi di Pasar Tradisional

Jumat pagi, aku bergegas pergi ke pasar saat matahari masih teduh, karena rasanya malas beranjak ke luar jika matahari sudah mulai meninggi. Jarak ke pasar tradisional cukup dekat, cuma perlu melewati satu gang kecil sampai tiba di lapangan besar di samping sekolah dasar. Sisa tanah basah di lapangan itu memperlihatkan bahwa malam tadi Bandung diguyur hujan, tidak deras namun cukup lama para penghuni jalan dibuat berteduh di pinggir jalan. Aku melewati bapak-bapak yang sedang asyik nongkrong di samping lapangan, dekat penjual sayur yang masih sepi. Hari ini tujuan aku ke pasar tidak banyak, cuma membeli beberapa bahan untuk membuat dimsum.

Lanjutkan membaca “Suatu Pagi di Pasar Tradisional”

Kenapa aku sial banget hari ini?

Sore itu, lewat jendela damri, aku bisa melihat rintik hujan mulai turun. Aku menghela nafas sesaat karena teringat payung di rumah yang sengaja aku tinggal. Saat itu sudah hampir tiba waktu maghrib. Ojek online pasti akan mematok harga dua kali lipat. Setelah pergulatan panjang, akhirnya aku memutuskan untuk turun di halte terakhir dan melanjutkan perjalanan dengan angkot.

Lanjutkan membaca “Kenapa aku sial banget hari ini?”