Ketika Manusia Suka Belajar

Dua minggu ini aku disibukkan dengan kegiatan Kongres Nasional di bidang Kedokteran. Temanku yang bekerja di Event Organizer meminta bantuan teman-temannya di kampus untuk menjadi volunteer di kegiatan tsb. Selagi ada waktu luang, kenapa ngga dicoba? Walaupun awal-awal rapat isinya cuman ditakut-takutin karena seluruh peserta, dan bahkan penyelenggaranya, adalah dokter -yang dikenal perfeksionis dan permintaannya aneh-aneh. Tapi ternyata, ngga semenakutkan itu. Aku bahkan dapet banyak pelajaran berharga dari sana.

Lanjutkan membaca “Ketika Manusia Suka Belajar”

Toxic People

Sabtu siang, aku pergi ke bazar fashion muslim bareng kakak di dekat rumah. Entah dalam rangka cuci gudang atau gimana, harga yang dipatok jadi murah banget. Ngga heran, pas sampai sana, lapangan tempat bazar rame banget sama perempuan. Cuma ada segelintir laki-laki yang nunggu istrinya di pinggir lapangan dengan setia. Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang rela desak-desakan demi dapet barang diskon. Kalau sistemnya antri dan tertib sih, aku kayanya udah ada di baris paling depan. Tapi karena diajak sama kakak, mau ngga mau aku ikut. Walaupun di bazar tadi, suasananya ngga kondusif. Rebut sana, rebut sini. Sampai barang-barang banyak yang jatoh dan keinjek-injek.

Lanjutkan membaca “Toxic People”

Perjalanan Menemukan “Aku”

Sebagai orang rumahan sejak kecil, aku ngga begitu suka bepergian. Emang sih, ada saat tertentu aku pengen banget travelling, tapi intensitasnya jarang banget. Sering banget aku males ke luar rumah, padahal malamnya aku antusias berencana buka laptop di kedai kopi selama berjam-jam. Jangankan ke kedai kopi yang aku rencanain buat diri sendiri, untuk main ke rumah sepupu kok rasanya mager banget, ya.

Lanjutkan membaca “Perjalanan Menemukan “Aku””

Jangan nanya, ya!

Sejak di bangku sekolah dasar sampai kuliah, aku selalu berusaha untuk ngga nyontek saat ujian. Saat SD, aku dan yang lainnya biasa membangun ‘dinding’ di sekitar kertas ujian yang dibuat dari buku. Alasannya sih supaya temen sebangku ngga nyontek. Karena dulu jaman SD belum ada tuh yang namanya duduk terpisah saat ujian. Alasan lainnya kenapa kita segitu blak-blakan ngebangun dinding yang artinya ‘dilarang nyontek’ ngga lain karena saat itu kami masih bisa bebas berekspresi, tanpa perlu yang namanya musuhan gara-gara ngga dikasih contekan.

Lanjutkan membaca “Jangan nanya, ya!”

Suatu Pagi di Pasar Tradisional

Jumat pagi, aku bergegas pergi ke pasar saat matahari masih teduh, karena rasanya malas beranjak ke luar jika matahari sudah mulai meninggi. Jarak ke pasar tradisional cukup dekat, cuma perlu melewati satu gang kecil sampai tiba di lapangan besar di samping sekolah dasar. Sisa tanah basah di lapangan itu memperlihatkan bahwa malam tadi Bandung diguyur hujan, tidak deras namun cukup lama para penghuni jalan dibuat berteduh di pinggir jalan. Aku melewati bapak-bapak yang sedang asyik nongkrong di samping lapangan, dekat penjual sayur yang masih sepi. Hari ini tujuan aku ke pasar tidak banyak, cuma membeli beberapa bahan untuk membuat dimsum.

Lanjutkan membaca “Suatu Pagi di Pasar Tradisional”